Minggu, 21 September 2014

Sebuah Pesan

Daun masih saja berguguran. Sama seperti sore-sore sebelumnya, dengan secangkir susu coklat kesukaanku, ku nikmati senja. Berusaha untuk menenangkan diri sejenak, entah berapa kali ku lirik handphone diatas meja. Tidak bergerak bahkan tidak bersuara. Terlalu sepi. 

Sesekali kuciumi aroma susu coklat kesukaanku dari kepulan asap ditepian cangkir yang kugenggam. Aku masih mencoba menenangkan diri, sudah dua hari sang Raja tidak menghampiri sang Ratu. Ku lirik lagi handphone ku, tidak ada tanda-tanda seseorang menghubungiku. Ku buka pesan-pesan yang masih kusimpan dan ku baca ulang. Ada emoticon peluk dan cium disana, aku merindukannya. Nyatanya, sampai detik ini masih saja sama. Rasanya badanku telah berlumut, entah berapa lama aku disini. Menunggu dan menunggu, beku bersama kursi kayu yang menyangga tubuhku dengan enggan. 

Beberapa menit kemudian, suara riuh kendaraan bersahutan. Satu persatu laki-laki berkopiah hitam turun dari sebuah mobil terbuka. Entahlah aku tidak peduli, bukan mereka yang aku harapkan saat ini.

"Ufaira!"

Aku terperanjat, aku mengenali suara itu. Aku bangkit meninggalkan kursi teras, melihat lebih dekat siapa dia. Hamid berjalan mendekat, dibelakangnya berbaris laki-laki berkopiah hitam yang ku lihat tadi sembari bershalawat. Tenang sekali.

"Aku membawa sesuatu. Ini adalah sebuah pesan dari masa depan. Ufaira, will you marry me?" ~

1 komentar:

Unknown mengatakan...

ay........ i hope the king will marry she ( Queen) haha

Posting Komentar