Hujan malam ini mengantarkanku membuka lembaran yang telah basah dan tulisannya pun nyaris memudar. Kau yang pernah singgah diujung kuku, aku masih di pinggiran telaga ~
Siapa yang tau pasti hati seseorang? Siapa yang bisa fasih membaca keadaan? Siapa yang bisa merangkul dan mendekap lebih erat selain dirimu sendiri? Aku memang berdiri sendiri dengan sisa kemampuanku meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan meskipun ragu mengganggu. Aku bersama 1000 burung kertas yang kurangkai dalam ingatan, kita akan bahagia. Kita akan menjemput semua itu, hanya saja butuh waktu. Terlalu sukar untuk menterjemahkannya. Tapi yang bertahanlah yang paling layak untuk diperjuangkan.
Dia yang tak bernama, bukankah dunia yang pernah kita lalui sangat berharga? Kita menjalaninya dengan hati, meski semua tidak pasti nyata. Apa yang kita butuh, Tuhan tahu. Saat kita minta, Tuhan mendengar. Saat kita percaya, Tuhan bekerja. Saat kita bersyukur, Tuhan memberi lebih. Sejauh apapun aku nantinya, dan sejauh apapun kamu. Ku kira rindu tak pernah bernama sama sepertimu, kesunyian adalah bahasanya dan diam adalah cara kita memahami semua.
Dengarkan aku, kisah kita adalah sebuah perjalanan panjang yang seharusnya diabadikan. Kau bisa menjadikan aku esok sebagai kenangan atau mungkin saat ini. Sebab bersama-sama itu bukan sekedar untuk berbahagia, kita bersama pun untuk bertahan dalam kesulitan. Tidak semua yang menangis itu sedih, yang tertawa pun tak selalu berbahagia. Untuk sebuah kejadian yang harus dilupakan, aku tak pernah berjuang melupakannya. Aku hanya tak ingin mengingatnya.
Dibalik hujan ada kesedihan yang menetes diam-diam. Kesakitan kadang lebih indah ketika disamarkan. ~


0 komentar:
Posting Komentar