Rindu memang selalu suka-suka datangnya. Suka
tiba-tiba, direncanakan, ataupun memang sengaja diundang semesta; hujan
salah satunya.
Resah yang aku lalui memang sewajarnya saja, tapi kau membuat keadaanku semakin tak baik-baik saja. Kau seakan tak ingin berpihak pada keinginan kalau kau mempertahankan hubungan kita. Aku tak ingin banyak menuntut semua waktumu, karena memang aku tak berhak meminta. Aku sadar diri akan aku yang belum sepenuhnya kau miliki, dan apalagi kau terlihat seakan tak ingin mempertahankan.
Seandainya jarak tiada berarti ....
Apalah jarak yang hanya bisa kita artikan dengan angka, yang menjelaskan seberapa jauhnya kau dan aku, yang menjelaskan kalau pertemuan itu butuh nominal yang tidak sedikit, yang menjelaskan sudah berapa hari, minggu, bulan bahkan tahun kita tak bertemu, dan dari sekian banyaknya angka-angka, kalau cinta yang tersimpan untukmu disana tidak butuh banyak nominal. Tat kala angka itu tak terhingga disini. Di hati.
Siapa sangka, kita bisa dipertemukan dalam kondisi cinta yang ruangannya berbeda. Kau disana dengan secangkir teh manis, untuk menemani dingin yang
menyeruak di dinding kamar, dan aku disini melewati malam bersama hujan. Aku sendiri tidak mengerti hubungan macam apa yang sedang kita jalani.
Kedekatan ini masih sukar aku mekarkan menjadi definisi yang lebih luas.
Apakah gerangan yang ada di balik dadamu, rasa apa yang bersarang di
sana, aku tidak memahaminya walau seremahan biskuit –yang berceceran di
lantai—sekalipun.
Aku tak ingin berhenti sampai disini, semua sudah terlalu banyak perjuangan yang selama ini kita lakukan. Kita hanya menunda akhir. Berusaha menambahkan hal-hal menarik yang
indah untuk dikenang ketika berakhir nanti. Aku menyadari kau dan aku
sama-sama menutup mata dan menutup telinga atas fakta yang ada di antara
kita. Seperti yang aku katakan, kita hanya menunda waktu. Entah siapa yang
akan terluka nanti. Setidaknya dalam waktu yang tertunda ini, kuharap
aku bisa mengukir memori dalam pikiran dan hatimu. Kuharap dalam
waktu-waktu ini kita bisa bahagia dalam rentang waktu yang terbatas.
Lagi.
Dingin yang ku rasa bersama hujan.
Tiada senja yang menghangatkan.
Alih-alih aromamu masih tertinggal.
Padahal ragamu tak lagi tinggal.
Di mana kah kamu saat ini?
Dingin yang ku rasa bersama hujan.
Tiada senja yang menghangatkan.
Alih-alih aromamu masih tertinggal.
Padahal ragamu tak lagi tinggal.
Di mana kah kamu saat ini?
Sesederhana saat hujan turun dengan sendirinya tanpa ragu. Sesederhana itulah aku merindukanmu.
Jika hujan dapat mengobati rindu biarlah berlama-lama menikmatinya. ~myldrstory


2 komentar:
;( semangat berjuang ldr yaaa kaka, semoga kuat bertahan :)
hehee terimakasih :) untuk semua LDR dimanapun berada :D
Posting Komentar