Senin, 04 Januari 2016

Dirindu


"Beradalah di posisiku. Mungkin kau akan lebih mengerti tentang abu-abu yang mengelilingiku; melepaskan atau mempertahankanmu." *kutipan satusenja

Sudah 7 hari berlalu hanya dengan menggenggam bayangmu. Melewati semua dengan sisa remahan kue yang berserakan disudut kamar. Nadiku sumbat, pikiranku cacat. Tiga benda yang membuat candu tak berarti apa-apa; membosankan. Kuhirup aroma kopi basi yang seharusnya sejak semalam sudah ku nikmati bersamamu. Sayangnya kau tak bergerak, mengendap didasar gelas. Sejujurnya aku ingin merindukanmu dengan baik, dengan banyak semoga yang kupintal sebagai pengganti adaku yang meneduhkan juga menghangatkan. Aku belum pejam, anganku berkeliaran kemana-mana. Aku sedang memerangi diriku sendiri melawan ego juga emosi. Hanya karena aku ingin selalu mengertimu. Rintik peluh yang kubentuk menjadi tirai kesetiaan, biar lelah tapi tetap kulakukan. Aku tidak khawatir, karena didalam doaku- aku memohon Tuhan menjagamu. Semoga tidak ada yang sia-sia, semoga semua baik-baik saja. Lagi, aku belum pejam. Memikirkan kecerobohanku ketika aku tak bisa menguasai diri. Tak berkabar, mengapa? Ku harap kamu paham. Tidak ada yang kekal dalam hidup ini. Bagaimana jika Tuhan menukar posisi kita? katamu.

Seberapakali aku mencoba membuka percakapan denganmu, hasilnya tetap akan sama. Seperti berhenti pada kolom teks yang seharusnya sedari tadi sudah terisi. 

Teruntuk kamu yang (telah) datang, (telah) menghilang, (telah) kembali, lalu lenyap lagi. Aku mencarimu pada setiap senja yang warnanya menyesakkan. Aku tetap berlari untuk sekedar meyakinkan diri sendiri ada kau diujung sana. Dari semua yang terjadi, menyakitkan, menyesakkan, pun menyenangkan, aku hanya bermaksud menyayangimu, sudah itu saja. 



3 komentar:

Unknown mengatakan...

😱the incredible words...superr sekali

Unknown mengatakan...

😱the incredible words...superr sekali

fathira baina mengatakan...

thank's very much :) semoga menginspirasi hehe

Posting Komentar