Jumat, 04 Desember 2015

Muak; Simple Tapi Ngena

"Aku "muak". Telah terlanjur tak dapat lagi terbenahi. Jika memang ada kata yang lebih menjengkelkan dari kata itu untuk mendefinisikan perasaanku saat ini, maka akan ku goreskan namamu yang membuat kata itu terlahir didalam pedihnya luka. Gurauanmu itu membuatku muak. Hidup tak sebercanda itu." kata seseorang dengan bekas memar dipelipis matanya. Tak berair mata, hanya saja sedikit basah dikarenakan debu (katanya). Sebuah notes merah dan pena bertinta hitam masih dalam genggamannya. Kertas putih itu mulai lusuh karena sedari beberapa menit yang lalu ia sibuk membolak-baliknya. Tidak ada satupun kata tertulis, yang ada hanya kata "muak" berputar dikepalanya.

Sedikit suasana baru, pikirnya. Bukan berarti tidak mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri. (Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?) Hanya saja, terlalu berbau amis. Daging-daging berserakan dijalanan, tak ada yang memunguti atau memindahkannya ke tong sampah. Ratusan lalat berterbangan seolah sedang merayakan hari kemenangan. Bungkusnya masih rapi dengan kantung plastik berwarna hitam, hanya sedikit sobekan disebelah sisinya. Mungkin begitulah ia mendeskripsikan semuanya. Semua yang telah ia pelajari dan lewati. 

Sebulan, dua bulan dan pada bulan berikutnya adalah waktu dimana cukup mudah untuk menebak dan mengetahui bagaimana permainan licik seseorang yang lain. Seseorang? Ataukah seseorang itu sedang bersama dengan seseorang lainnya yang mempunyai kelicikan yang sama? Oh Tuhan, bagaimana jika ia yang berdosa karena mereka. Seharusnya ia berdoa untuk kebaikan mereka agar mereka sadar bahwa mereka yang dewasa akan tau bagaimana cara menyikapi dan mengatasi masalah. Tanpa harus berkata "aku marah", cukup pahami saja bahwa diamnya adalah amarahnya.

Akan ada titik muak untuk keyakinan sekalipun. Jangan salahkan ia jika sejenak ia berpikir bahwa ia kejam. Bagaimana tidak? Apa yang dicari? Ada saatnya ketika seseorang menjadi muak terhadap orang yang mempermasalahkan sesuatu yang remeh-temeh pula. "Seandainya terdapat kata yang lebih mendalam dibanding sekedar “lelah” dalam kamus, benarnya, mungkin kata itu lebih kuhayati dan terasa." Benar bahwa, saat orang lain iri dengan kita, itu artinya kita jauh lebih sukses dari mereka. That's simple. Omong kosong yang sebenarnya tidak perlu didengar lagi, terlalu sering dan semakin muak. Berkali-kali mengulangi, tanpa pernah paham ada seseorang yang telah dilukai. Jika status sosial-media telah tertulis, maka entah siapa saja yang kan merasa (begitu nyatanya). Bukan memperbaiki, tapi malah dengan bangganya mengumbar segalanya kepada siapa saja yang sebenarnya tidak berhak tau. Dipercayai, dihormati, karena memang seharusnya begitu. Namun disayangkan, sikap telah menggambarkan siapa sebenarnya seseorang yang sedang bersama seseorang lainnya itu. Memeluk lebih erat, agar pisau akan menusuk lebih dalam. Tuhan, lindungilah aku dari segala mara bahaya yang menimpaku, baik yang ku ketahui atau tidak ku ketahui. Nikmati saja~


Tapi. Pun. Berlian didalam lumpurpun tetap akan bersinar.



0 komentar:

Posting Komentar