Pada suatu waktu, ada rindu yang terkekang menjadi tawanan. Hingga akhirnya kumpulan merak tak lagi mengepakkan sayap. Hujan yang turun tak mampu meneduhkan mata bahkan hati. Derasnya mengalahkan rindu, berkecamuk dengan segala aroma sendu.
Ku tahu suatu hari akan datang segala masa. Bagaimana seseorang merah, jingga hingga kelabu. Tak ada satu frasa lagi yang dapat mewakili, bahkan denyut nadi tak lagi dalam melodi. Tuhan tahu bagaimana segala sesuatu, hanya saja manusia tidak pandai memahami. Haruskah sepsang peri menyatukan sayapnya? Bagiku pertanyaan semacam ini tidak perlu dijawab. Mengapa? Karena perasaan tidak selamanya membutuhkan teori yang banyak, hitungan yang matang bahkan perlakuan yang berlebihan. Semua; segalanya sudah terbungkus rapi dalam sebuah kotak rahasia yang kusebut hati. Bagaimana bisa mencintai hujan jika untuk merindukan kehadirannya saja kau enggan?
Lalu, pada episode berapakah semuanya harus dimulai bahkan berakhir? Ada ilalang yang terpijak dibagian sana, hanya saja jeritan suaranya tak pernah terdengar. Tapi tangisannya tidak berarti apa-apa jika ia tidak mencoba bangkit dan berdiri.
***
Dalam sebuah frasa kutemukan candu yang membeku kelabu bahkan membiru. Sinarnya biasa, tak lagi mengundang tanya. Siapa dia? Bagaimana bisa semuanya terlanjur biasa? Ampas kopi sore ini tidak mengartikan apapun, tetap mengendap bersama sisa gula yang tak ikut larut. Bisakah keduanya bersatu? Kadang, diam tidak mengartikan apapun. Sayangnya aku tidak mahir dalam menerka. Jika semua telah dianggap sama, bagaimana jika ku tawarkan kita akan membahas ini kembali? Mungkin tidak ada lagi yang harus diperjelas, kacamataku telah jatuh dan pecah. Tapi dialog antara kita yang membuat rindu. Senja hampir berakhir, sedangkan kita masih larut dalam pikiran masing-masing. Pada bagian mana telah menorehkan luka? Sudahi jika memang kau sudah tak menikmatinya lagi.~


0 komentar:
Posting Komentar