Kalau keadaan mengharuskan kita akan benar-benar bersama. Pasir, air dan senja...
Cerita ini ku tulis dengan mengabadikanmu. Ada syair yang mengiringi detak jantung, begitu sederhana sampai kita benar-benar terlupa bahwa kita telah dewasa. Tawa kita renyah, teriakan kita bising tapi angin membuat segalanya tetap baik-baik saja. Karena definisi bahagia itu sederhana; sekalipun harus tidur beralaskan pasir pantai putih asalkan bersamamu.
Banyak yang mengagumimu diluar sana, dan aku pun demikian. Tapi aku tidak ingin semua berakhir biasa saja. Setidaknya hingga aku terlanjur lelah menunggu. Meski sering kali pada bagian ini aku harus meradang, melawan rasa sakit. Ada celah untuk aku masuk kesana, hanya saja mungkin dia lebih dahulu. Aku tidak berharap banyak, sebanyak pasir yang ku genggam. Karena aku tahu deburan ombak ini semakin membuncah didada, sehangat senja yang menoleh.
Dalam perjalanan yang kita buat, seolah kita adalah sepasang merpati putih. Kau berhasil menjadi tempat ternyaman; aman. Kita kadang sering menduga-duga apa yang terjadi antara kita. Bagaimana mengkuliti rasa, sebab kita tidak pernah tahu. Aku akan tetap seperti ini, menatapmu diam-diam. Karena nyaman sering membuat orang lupa kalau kita hanya sebatas memuja.
I adore you...
Menulismu pada lembar terimakasih
Terimakasih karena telah mengajariku berlari; terlalu jauh
Meski yang ku tulis adalah kenangan, aku tidak bermaksud memintamu pulang
Berbahagialah, kau pernah ada


0 komentar:
Posting Komentar