Bolehkah kali ini aku sedikit bermain peran? Aku ingin menjadi peri disudut matamu. Aku ada diantara kelopak mata dan sesekali aku bergelantungan pada bulu matamu. Aku akan melihat apa yang kau lihat, bedanya mungkin kau akan kesulitan melihatku. Jangan berkedip terlalu cepat, aku hampir jatuh. Kau tidak keberatan kan? Aku sudah sangat kecil, pasti kau tidak lagi merasa berat; keberatan. Kau bebas melakukan apa saja,
karena aku tidak akan mengganggumu. Begini. Bisakah kau tidak menangis?
Kumohon, ayolah. Usahakan tidak ada air mata yang keluar dari matamu,
tidak berkaca-kaca atau basah oleh air mata. Maaf kalau ini membuatmu
sedikit terkejut. Air mata akan membuatku kedinginan, lama kelamaan aku
akan memudar dan terbunuh. Air matamu begitu berharga, ku mohon
mengertilah. Aku bersamamu hanya beberapa waktu, dan ketika saatnya tiba aku akan menghilang dengan sendirinya tanpa kau sadari. Ah lupakan tentang perpisahan itu.
Hey, jangan menggosok matamu terlalu kencang. Sayapku hampir robek dan patah. Kau tidak kasihan melihatku jika tak lagi bisa terbang? Kau tahu, aku mempunyai mahkota di kepalaku, ini pemberian ibu peri ketika aku masih kecil. Walaupun sampai detik ini aku tetap saja kecil, tidak perlu membayangkan dulu aku sekecil apa. Aku tetap kecil bagaimanapun keadaannya. Mahkotaku berwarna perak, ada ukiran namaku diantara batu permata pada mahkota. Mungkin kau harus melihatnya dengan microskop atau dengan alat-alat lain yang bisa digunakan. Ini sangat menakjubkan. Kau menginginkannya juga? Maaf aku hanya punya satu, mungkin suatu hari kau akan mendapatkannya juga dari seorang pangeran.
Apa yang kau lihat? Sebentar, kau sedang melihat anak kecil yang menangis karena es krimnya jatuh? Tidak tidak, sepertinya kau sedang melihat sekumpulan remaja yang sedang bermain sepatu roda. Apa?? Aku salah lagi. Oh ya, aku tau. Kau melihat pemuda berkaca mata itu kan? Benar, aku tidak mungkin salah. Hey apa itu? Sebuah senyum untukmu? Dari pemuda itu? Dia memang manis menurutku, penampilannya cukup menarik. Kau tidak ingin membalas senyumnya? Kenapa kau menunduk? Cuaca disini semakin dingin ya, apa kau tidak berencana pulang? Menyeduh coklat panas atau memakan semangkuk sup. Sepertinya itu lebih baik, dan aku semakin kedinginan. Kau menangis? Ini bukan karena cuaca, kau menangis. Ada apa? Aku terlalu banyak berbicara atau aku terlalu mengganggu waktumu?
Aku tau tanpa perlu kau jelaskan. Pemuda yang duduk disana memang tersenyum, tapi bukan kearahmu. Kau adalah tembok antara dia dan wanita dibelakangmu. Tepat sekali, aku yakin itu. Tapi, bisakah kau tidak menangis lagi? Aku mulai memudar, aku ingin tetap menemanimu. Pergi saja dari tempat ini, setidaknya disaat kau kehilangan dia, kau masih memiliki aku sebagai tempat berbagi. Aku tidak akan terlalu banyak bercerita, atau apapun yang membuatmu bersedih. Ayolah pergi dari sini, karena sebentar lagi aku akan terbunuh dengan air matamu.
~ sederhana; saja. aku takut terlalu dekat yang semakin lekat. karena itu akan menyakitimu.


1 komentar:
bagus kak:'):3
Posting Komentar