Minggu, 12 Oktober 2014

Penikmat Rindu

Cobalah mengerti apa yang tersirat dariku. Setiap goresan yang aku tunjukkan tanpa perlu aku katakan. Binar mataku, lukisan bibirku, dan segala hal yang ada padaku. Hanya untuk agar kau memahami aku. Itu saja.

Cobalah melihat lebih jauh lebih dalam, lebih dalam lagi. Disitulah bayanganmu berada. Semuanya terlihat sama, tapi kamu berbeda dari mereka. Antara kamu yang terjebak masa lalu dan aku yang terjebak dalam bayangmu. Jika merindukanku itu melelahkanmu, aku harap kamu tidak menyalahkan aku karena itu.

Sejak ku yakini bahwa kau bukanlah siapa-siapa aku, sejak itu pula aku mulai kehilangan kata yang dulu ku bangga-banggakan bila aku jauh darimu. Kata kebanyakan orang, cinta itu harus diungkapkan jika memang sudah waktunya, sebelum kamu menyesal dan tidak ada kesempatan yang datang lagi. Untukmu yang meniupkan angin dan kamu juga yang menghembuskan angin. Ketahuilah, berhenti mencinta tidak mungkin secepat jatuh cinta. Aku tidak menyalahkanmu mengapa rindu ini terus hadir. Ini hanyalah sepenggal kata, rindu.

Aku pernah bertanya pada sang rindu, “mengapa sang bayang tak jua hendak pergi dari sini…?” dan sang rindu pun menjawab, “karena sang bayang itu selalu diam.” Sederhana saja, aku rindu walau itu hanya bayangmu. Bayanganmu yang tidak akan pernah menjadi nyata. Yang aku tahu, merindu itu melelahkan.

Ada perjuangan yang tidak kamu lihat dan tidak kamu rasakan. Mungkin ini berlebihan, tapi aku berusaha untuk tidak membohongi diri. Andai yang ku rindu itu bukan kamu.



Banyak 'kabut' berkumpul dan berputar-putar dalam hidup kita; teman jadi musuh, musuh jadi teman.
Lalu cinta jadi orang asing, orang asing jadi cinta.

0 komentar:

Posting Komentar