Rabu, 06 Agustus 2014

Selamat Jalan Gina

Pernah ngerasain gimana pas lagi sayang-sayangnya, tapi Tuhan ngambil dia kembali kepada-Nya pada saat itu juga? Sayang yang teramat sangat untuk hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW, dia bernama Gina ~

28 Juni 2014
"Kak, Gilang bawa kucing".
"Siapa namanya?".
"Gina".

Selamat datang di Langsa Gina, di rumah atok kesayangan kita semua :) semoga betah disini. Gina adalah seekor kucing anggora-persia. Gina bayi dibeli Bunda ketika umur 1,5 bulan. Dia gak sendiri, ada kembarannya warna putih keabu-abuan, tapi Bunda lebih suka warna Gina.  Sekarang umur Gina sekitar 5 bulanan.





*foto Gina pas hari pertama di rumah atok

Sama kaya kucing lain, Gina suka sekali bermain. Entah itu bola, lidi, sampai capung yang terbang lewat di depan muka dia. Gina kalau mandi harus ke salon, karena di Langsa gak ada salon hewan, jadi Gina ke salon nanti pas balik ke Medan. Gina makannya banyak, tapi semenjak disini dia jarang makan karena makanannya dimakan sama semut. Ehh pas Gina makan, dia jadi digigitin semut. Telinga sama bagian atas mata Gina gatel-gatel, suka digarukin karena digigit sampe berdarah -__-
Gina punya bekas luka di atas kepalanya, kata Bunda waktu Gina bayi, Gina sempet jatuh. Dulu bekasnya lebih besar, sekarang udah lumayan. Bekasnnya itu ngebuat pertumbuhan rambut Gina terhambat, agak lama tumbuhnya. Tumbuhnya juga karena obat dari salon, harga obatnya mahal luar biasa padahal cuma 3 tetes.

Malam itu aku, Alfath, Abil, Gilang begadang semaleman. Karena kalau kita tidur, besok gak sanggup bangun sahur kata Bunda. Kita main diteras rumah, makan rambutan, main sama Gina. Gina main loncat-loncatan didinding karena kita gesekin lidi ke dinding. Dia kesenangan, Bunda sempat beberapa kali videoin aksi lincah Gina. Sampe akhirnya Gina pulang ke Medan karena hari senin Gilang udah masuk sekolah.





Sehari sebelum lebaran, Gina datang lagi sama Bunda juga Gilang. Senengnya luar biasa pas ketemu Gina lagi :) Kakak rindu ~

Lebaran pertama, Gina jadi primadona tamu-tamu. Bisa dibayanginlah, ehh cantik kali kucingnya? Kucing pesek ya? Anggora ya? Namanya siapa? Gigit gak? Gina terus-terusan dipegang, di ajak main sampe dia kecapekan. Tidurnya puleeesssss -______-







*moment lebaran pertama di rumah atok :)

Lebaran ketiga, Bunda sama Gilang berangkat ke Sabang buat liburan. Bunda pesan, nanti Tira liat-liat Gina ya. Ini makanannya. Besoknya aku langsung datang, Gina gak terurus gitu. Mungkin karena orang rumah juga bingung + takut kasih makan. Beberapa hari berselang, Gina kesepian gak ada temen main. Murung, gak ada yang ajak ngomong, matanya basah. Mungkin dia sedih gak ada temennya. Aku tetap bersihin kandang Gina, ganti minumnya, tambahin makannya, bersihin badan Gina, sekali-sekali aku ajakin main ke teras. Sampai akhirnya hari sabtu, aku ajakin temen aku datang ke rumah buat kenalan sama Gina :) Gina punya kakak baru ~

Minggu...
*Skip

06 Agustus 2014
Andong sama mama duduk sambil cerita pas aku datang, aku langsung duduk dan dengar kalau Gina mati hari minggu :" Shock, gak tau mau bilang apa. Pengen nangis tapi tertahan, sesak.

Hari minggu pagi Bunda sama rombongan dari Sabang singgah ke rumah atok. Ramai sekali rumah waktu itu kata andong, ada beberapa orang tua yang bawa anaknya. Gina yang jadi sasarannya, awalnya andong udah bilang jangan bawa Gina keluar. Tapi.. Udah memang segitu kebersamaan kami, Gina terlalu banyak yang pegang, dibawa-bawa, digendong-gendong, dia gak bisa telan makanan. Gilang nangis kuat waktu itu, andong langsung masuk ke kamar. Bunda juga nangis, sambil gendong Gina. "Gina bangun". Cuma itu yang bisa terucap, astaghfirullah ya Allah. Gina udah pergi.

Hari itu juga Gina dikubur di halaman rumah atok. Gina dibungkus sama handuk Gilang. Selamat jalan Gina. Gina kucing yang baik, kami semua sayang Gina. Kami bahagia memiliki Gina. Semoga kita bertemu lagi :"

*sore minggu aku kepikiran Gina terus, Gina udah pulang atau belum. Nyampe dirumah andong, Gina udah gak ada. Ohh Gina udah pulang. Tapi ternyata Gina memang udah pulang :"
Aku yang mondar-mandir dihalaman gak tau kalau aku udah bola-balik dikuburan Gina. Astaghfirullah..

Gina, mungkin bagi sebagian orang akan berpikir sepele tentang ini. Hanya seekor kucing. Tapi tidak bagi kami, keluarga kami. Kami sangat menyayangi binatang terutama kucing. Semua orang sayang Gina. Gina layaknya bayi kecil yang lucu dan manja. Gina, kakak tau Gina kesepian gak ada temen pas abang sama kakak gak dirumah atok. Gina lapar, tapi Gina harus nunggu kakak datang untuk tambahin makanan Gina di mangkuk. Mata Gina basah, kakak tau Gina sedih meskipun Gina gak bisa bilang. Gina, semoga kita bisa ketemu nanti di surganya Allah. Kita main sama-sama lagi, sama abang Alfath, abang Gilang, abang Abil, juga Bunda.







Sayang Gina :")

Kamis, 24 Juli 2014

Wanita Palestina Menggunakan Granat Bekas Perang Untuk Pot di Taman Bunganya



Konflik dan perang yang tak kunjung berhenti di wilayah Palestina nampaknya tidak menyurutkan semangat hidup rakyatnya. Seorang ibu bahkan membuat taman bunga kecil dengan bahan sisa peperangan yang terjadi di wilayahnya. Pada sebidang tanah di desa Biilin, Ramallah, wanita ini membuat taman bunga dengan menggunakan media bekas granat.

Bunga-bunga ini tumbuh di wilayah yang kembali direbut Palestina dua tahun yang lalu. Namun, seperti dilansir boredpanda.com, karena konflik berkepanjangan, segalanya menjadi terbatas di wilayah ini. Cukup sulit untuk mencari beberapa kebutuhan, termasuk pot bunga. Karenanya wanita ini memanfaatkan granat bekas yang berbentuk seperti botol sebagai pot bagi bunga-bunga miliknya. 
Beberapa di antaranya bahkan masih memiliki kabel sehingga dapat digantung kan di beberapa tempat, termasuk kawat berduri.

Kondisi peperangan memang sangat melelahkan dan memprihatinkan. Tetapi, melegakan rasanya dapat melihat sebuah taman bunga di wilayah ini. Taman bunga ini juga melambangkan ide kreatif di wilayah ini tidak hilang karena peperangan.

Kita hanya dapat berharap, bunga-bunga ini dapat tumbuh bersama dengan harapan baru agar wilayah ini dapat terbebas dari peperangan dan konflik, dan perdamaian dapat terjadi di sana. Bunga-bunga ini melambangkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik bagi mereka.



 

 

 

 

 

Sebenarnya sangat sederhana konsep kebahagiaan itu. Sekalipun anda bukan orang terkenal, bukan orang kaya, tidak punya mobil berjejer atau uang segudang, anda tetap bisa bahagia. Bahagia itu ada dalam diri anda ~

Minggu, 06 Juli 2014

Ketika Saya Masih Bisa

"Tentu saja, menjalani suatu perubahan tidaklah mudah" ~

Bacalah tulisan ini semampu yang kau inginkan, sebab saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menulis. "menulis apa yang tak pernah terbaca". Saya percaya, ini semua tidak akan sia-sia.

Saya ingat betul ketika seseorang mengatakan kepada saya, "tulis saja apa yang ingin kamu tulis". Saya sadar, terkadang ketika kita memulai sesuatu itu sangatlah susah, rasanya malas, bla bla bla. Tapi, coba pikirkan ketika kau memulai dengat niat yang tulus kau tidak akan merasa hal yang kau lakukan itu sia-sia. Jika sekarang kau tidak menemukan manfaatnya, mungkin suatu hari nanti. Percayalah, akan ada pelangi selepas hujan.

Sedikit kisah..
Sembilan tahun lalu saya sangat rajin berlangganan sebuah tabloid remaja, alasannya simple, karena saya suka. Ketika kita mulai suka, kita akan memperjuangkan hal yang membuat kita bahagia. Saya menyisihkan uang jajan saya yang ketika itu benar-benar sedikit dibandingkan dengan teman saya yang lain. Setiap minggunya saya pergi dengan sepeda kakek saya hanya untuk membeli tabloid yang saya inginkan. Pernah suatu waktu, saya kehabisan edisi minggu itu. Saya panik, saya tidak ingin kehilangan 1 edisi pun. Saya keliling-keliling mencari tempat penjualan tabloid yang lain, dan jarak tempuh yang saya lalui itu cukup jauh. Akhirnya saya menemukannya, meskipun sudah agak lecek tapi saya bahagia. Tabloid yang saya kumpulkan setiap minggunya itu ada yang tidak sama sekali saya baca. Dalam pikiran saya, yang penting saya memiliknya. Jika saya telah memilikinya, saya bisa kapan saja membacanya. Mungkin ini terdengar egois, tapi itulah saya dan saya bahagia atas perjuangan yang saya lakukan itu. Enam tahun berikutnya, saya berhenti berlangganan. Alasannya karena saya malas, saya mulai bosan tentang artikel dan gaya penyusunan tabloid tersebut. Tidak sebagus dulu menurut saya. ~

Setiap manusia pasti ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Saya teringat sebuah pesan singkat yang dikirim oleh seseorang yang cukup berarti dalam hidup saya, "...memaknai hidup dengan senyum..." semoga, insyaAllah.

Tidak ada orang yang lebih mengenal dirimu kecuali dirimu sendiri. Saya cukup sadar atas kemampuan yang saya miliki. Saya ingin menulis ini secara global. Saya memiliki sifat yang ketika saya benar-benar ingin melakukannya dan saya suka, saya akan memperjuangkannya. Meskipun orang lain yang memiliki sikap yang sama dengan saya terkadang sedikit meragukan saya. Saya bisa, saya akan lakukan semampu yang saya bisa lakukan. Apapun itu, saya hanya ingin melihat orang lain tersenyum atas apa yang saya lakukan, tidak lebih. Saya tidak suka berdebat, mungkin hal inilah yang membuat saya agak malas berargumen. Saya lebih penurut, saya suka damai dan saya tidak menyukai konflik. Ada seseorang yang menjadi moodbooster saya sekarang. Ketika saya mulai redup, saya akan langsung teringat bahwa saya tidak bisa seperti ini, (mungkin) jika saya sedih bisa jadi dia akan sedih juga. Saya takut kehilangan orang-orang yang seperti itu (lagi). Saya tidak ingin mereka terlalu mengkhawatirkan saya. I will be fine.

Saya melakukan semua ini karena saya beranggapan saat ini saya masih bisa melakukannya. Jika saya harus membuat 1000 tangkai bunga, saya akan lakukan. Jika saya harus membuat 1000 burung kertas, maka saya akan lakukan. Apapun itu, karena saya masih bisa melakukannya. Masih bisa. Mengapa? Karena akan ada hari dimana saya tidak akan bisa lagi berjuang, akan ada hari dimana saya mulai lelah, putus asa, kehilangan segalanya yang membuat saya bangkit. Akan ada hari dimana saya harus kehilangan moodbooster saya. Cepat atau lambat, itu akan terjadi. Jadi, disaat saya bisa melakukannya tolong jangan meragukan saya. Saya tidak minta ini itu, saya hanya butuh semangat dari orang-orang disekeliling saya. Tersenyumlah. Itu sudah lebih dari cukup.

"Alam semesta tidak akan memberikan kembali cinta kecuali sebanyak yang Anda berikan".

I thank you God, for making me see another year; thanks for the gift of life; I'm eternally grateful for all the blessings that you have given me that makes me appreciate a good life, for the struggles you casted on me which made me stronger and helped me realized the ideas of life's bitter sweet reality and most of all for the love which is supported by guidance and protection which he unconditionally gives through my ever beloved family and friends.
Thank you for all the experience of this past year; for times of success which will always be happy memories, for times of failure which reminded me of my own weakness and of my need for you, for times of joy when the sun was shining, for times of sadness which drove me to you.

Alhamdulillah. Thank you for everything you've done for me. I'm happy, thank you have to remember my birthday :))

Note:
Terimakasih untuk semua orang yang menjadikan saya berarti. Terimakasih untuk teman-teman saya, juga teman-teman dunia maya saya. Saya senang mengenal kalian semua. Semoga Allah membalas kebaikan kita :) aamiin.

~ Anda tidak dapat menjadi bunga di sekumpulan ilalang, atau mawar di sekumpulan duri. Anda sendiri yang akan berubah menjadi ilalang atau duri.

Langsa, 06 Juli 1993 ; 22:33 WIB


Kamis, 26 Juni 2014

Mendramatisir Keadaan

Pengen nulis cerita ringan ni, edisi juni. Mumpung masih ada kesempatan, hajar aja -_-
Singkat cerita, ada beberapa kejadian yang memang bisa dibilang cukup mendramatisir keadaan. Jadi begini, jadi begini, jadi begini :v

[Iklan] *umi cantik pakek jilbab biru yang kayak baju abang pakek kemaren (dongker)*

Saya PPL di sebuah sekolah SMA/MA di Langsa. Kejadian ini pas tanggal 14 juni kemaren, hari sabtu. Jadi waktu itu ceritanya saya ngawas ujian di kelas XI IPS dengan seorang teman saya. Ada seorang siswa laki-laki yang melihat kearah saya dengan penuh rasa penasaran (mungkin). Saya agak aneh, lah kenapa ni anak? Saya juga balas liat dia, pandang-pandangan gitu ceritanya. Eh itu anak malah senyum, ohh tidak ada apa ini?? Saya gak diem aja, balas dong haha
Terus seiring jalannya waktu ujian, saya berjalan mendekati dia. Tau gak dia ngomong apa?? "Ibuk manis kali". Huaaaa -_____-" seperti itukah? Kemana aja baru nyadar wahai anak muda? Hahaha
Lanjut ni, pas selesai ujian tumben-tumbennya pada salam *cium tangan guru* 1x. Gak lama saya keluar kelas, jumpa lagi sama dia di tengah lapangan, saya mau ke kantor. Dia ulurin tangan lagi, tapi kali ini beda men. Dia salaman tapi tangan saya _________________ isilah sendiri -_- (sori bukan untuk konsumsi publik haha). Nah udah 2x kan salamannya, terakhir pas saya abis dari kantin gitu, eh ketemu lagi di depan kantor, salaman lagi. Dianya senyum-senyum gitu, amboy. Sehari itu, 3x dia salaman dengan saya. Hahaa. Tanda tangan mau gak?? Kayak FTV ajalah :D

Anaknya manis, gak terlalu tinggi. Alisnya tebal, benar-benar anak aceh yang kece haha. Setelah hari ujian itu, 5 hari berturut-turut kita selalu bertemu. Entah dia yang sengaja lewat di depan kantor guru PPL, entah saya yang sengaja berdiri di depan pintu hanya untuk mencari sosok dia. Bahkan kalau memang gak ketemu juga batang idung anak itu, saya sebentar-sebentar berdiri di depan pintu. Gak peduli orang mikir apa. Ya begitulah perjuangan, eitss. Diantara 5 hari itu, ada 1 waktu dia lagi berdiri di depan mading, dia melihat ke arah saya dan tersenyum "Remedial?" tanya saya ketika itu. "Gak buk, tapi nama saya ada ditulis". Begitulah kira-kira jawaban dia yang saya ingat. Ada yang ngagetin nih, dia ngomong ke saya dengan isyarat, dia minta nomor hp saya. Oh Tuhan kuuuu. Saya hanya bisa tersenyum :) -____-" dalam hati girang syekaliii.

Seminggu setelah saya ngawas di kelas dia, pas di hari sabtu juga. Fix kalau saya benar-benar gak menemukan sosoknya lagi. Entah kemana, mungkin gak sekolah karena ujian udah selesai. Berkali-kali saya celingak-celinguk tetap aja gak membuahkan hasil. Dia gak datang. Syedihh syekalii, gak bisa liat dia lagi. Kesepian aja, karena biasanya ada jumpa sama dia. Gak tau kenapa, memang gak ada yang istimewa sebenarnya. Dia pakai tas ransel warna coklat, gayanya rapi. Tapi sayangnya sampe sekarang saya gak tau nama dia itu siapa -_- walaupun udah ngawas di kelas dia. huhu

Cerita ini gak mentah-mentah saya tanggung sendiri, saya selalu cerita sama teman-teman saya. Mereka cukup antusias, malah ada yang ngeledekin. Memang sih dia masih kecil, loh memangnya kenapa? Kita kan gak ada hubungan apa-apa :D Makasih udah mau denger cerita yang gak jelas ini yaaa temaaaaaannnnnn.

[Iklan] *umi, besok kami mau umi pakek bedak. sikit aja mi*

Lanjut yaa ke dramatisir yang kedua, ini cerita di kampus. Teman saya (cowok) sedang sibuk sama laptopnya. Karena penasaran, saya dekati dia. Eh dia lagi main piano di laptop. Saya juga mau -___- ayolah kasih saya aplikasinyaa. Terakhir, dia ngasih juga haha bagus bagus. Saya gak langsung pergi, saya cukup tertarik untuk dengar permainan dia. *ting ting ting* [mengalahkan ayu ting ting]. Dia mainin lagu Vierratale - rasa ini, memang masih banyak yang kurang pas nadanya tapi saya suka. Rasanya tuh damai, tenang, senang aja. Terimakasih :) 

Trus nih gak cuma sampe situ aja, kita tuh kan lagi ada final exam. Jadi selepas keluar dari ruangan, saya masuk ke sebuah kelas yang ternyata ada dia disana sedang mainin piano. Mungkin lagi hangat-hangatnya piano sampe saya benar-benar ingin mendengarnya lagi *kepo*. "Grogi aku bay samping kau" katanya. "Yaudahlah aku pergi". saya beranjak bangun, eh dia malah megang lengan saya -_- hey don't touch me :p pikiran saya waktu itu adalah kenapa bisa kayak sinetron gini lah. Aneh aja.

Drama ketiga, pas final hari terakhir. Cerita ini gak panjang, plis jangan berenti baca tulisan saya ini. Plisss. Oke. Saya abis jumpain teman saya di ruang sebelah, trus waktu itu saya buru-buru mau keluar. Eh ada anak baru gitu yang lagi liat pengumuman, kita tuh kayak tabrakan jalan. Sama-sama mau jalan ke depan, berenti, jalan, berenti. Kayak pilem-pilem kan? Ini serius, tapi saya gak liat muka tu orang gimana. Gak berani -_- haha

Jadi gitulah ceritanya. Drama kan? Tumben aja bisa segitunya. Tapi, semua ini gak ada yang sia-sia kok, bukan sebuah kebetulan juga. Allah telah menggariskan sebuah perjalanan yang luar biasa untuk semua makhluk. Pasti ada hikmahnya :) InsyaAllah.

Mau wish dulu sebentar ni. Semoga saya bisa cepat tau nama anak itu siapa, bisa kenalan gitu haha adik loh adik. Gak usah mikir macem-macem :p oke.

Selesai ~


Sabtu, 21 Juni 2014

Apa Yang Terlihat

Sejauh apapun aku beranjak dari ingatanmu, mungkin kau tidak akan merasa. Karena bagimu, aku terlahir hanya menjadi teman yang hanya bersikap biasa. Memang tidak ada yang istimewa. Aku juga tidak ingin itu, aku tidak minta untuk diistimewakan. Silahkan pilih siapa yang berarti dalam duniamu, sekalipun aku tidak ada didalamnya. Tapi, kau berarti di duniaku. Aku tidak memintamu untuk membalas sesuatu yang sama dari apa yang telah aku perjuangkan. Sudah sejauh ini, aku tidak akan mundur, semua ini tidak ada yang sia-sia.

~ 18 Juni 2014 16:16 WIB

Senin, 16 Juni 2014

Surat Cinta Senjaku

Senja, bacalah surat cintaku ini dengan sepenuh hati. Rasakanlah aku mengalir disetiap aliran darahmu, menghangatkan hatimu dan bayangkan aku disisimu.

"Selamat malam Senja.

 Apa kabarmu? Tampaknya kau sedang tidak baik. Beberapa hari ini kau tak tampak anggun dengan jinggamu. Kau abu-abu. Bahkan hari ini kau menghitam. Mengapa? Mengapa kau biarkan musim hujan merenggut indahmu?

Maaf teruntuk kau yang tak pernah tersapa oleh angin. Aku bahagia mengenalmu, memahami dari hati ke hati. Aku mungkin bukan yang terbaik yang kau miliki, tapi aku bahagia memilikimu.

Aku merindukanmu, senja. Merindukan saat aku merangkai kata demi kata dalam luapan emosi.  Bisakah kita bersama lagi? Aku tidak mengerti bagaimana caranya aku harus bersikap di depanmu. Senja apakah kau tau, aku selalu menghela nafas panjang ketika melihatmu. Bisakah kau perlihatkan lagi senyum tulusmu untukku?

Aku menyayangimu, senja. Atas segala hal dengan keindahan tanpa durasi. Rasakan denyut nadiku ini, pada bagian mana kau sangat merindukanku? Setiap nadiku adalah sulur perdu yang hidup dari rindu. Seandainya kau tau, bahwa segala sesuatu hal yang telah, tak akan dapat kembali. Sekalipun samar-samar kau suarakan. 

Segala hal yang membuatku begitu rindu, semebar jingga kau yang berlabuh dalam tirai malam. Tutup matamu, adakah ingatan-ingatan yang selalu sibuk memanen kenangan? Kita pernah berdiam disana. Di sebelah matamu, aku terbit. Di sebelah matamu lagi, aku terbenam.

Senja, dan segala jingga yang ada dimatamu. Rinduku habis pada waktu, kata-kataku telah membatu dan aku mencintai ketiadaanmu. Angan-anganku sedang berusaha menyambungkan kotaku dan kotamu--menggantung jarak di dinding paling belakang rumah rindu. Sayangnya, rindu ini tak pernah tersampaikan. Meski di ujung lidah sekalipun, tak ada yang terucap. 

Senjaku, suddenly I’m missing you. Biarkanku menikmati rindu ini sementara waktu. Dengan binar-binar harapan, sebelum binar itu memudar lalu hilang ditelan malam kelam dan aku pergi meninggalkan harapan itu teronggok sepi. Pada akhirnya, senja meletakan segala ingatan yang tiada. Di debarku, kamu menjelma puisi paling nyala."

Tidak ada yang perlu disesali, tidak ada yang perlu disalahkan. Ku harap kau mengerti senjaku.~


~ Peri Tepi Danau

Rabu, 11 Juni 2014

Danau

Aku hanya ingin menulis, menulis dan menulis. Tak peduli siapa yang akan membaca nantinya. Suka atau tidak suka. Dia yang peduli atau tidak, bukan hal yang harus aku khawatirkan.

"Ibu peri, aku kehilangan sayapku".

Pagi ini, tidak ada yang istimewa. Dari mulai aku beres-beres untuk keberangkatan ke sekolah. Hari ketiga PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Sampai hari ketiga ini, semuanya masih biasa. Belum ada kegiatan yang menyibukkan, hanya saja harus sering-sering urut dada. Alasannya, keegoisan.

Apa yang kalian pikirkan? Kenapa terus-terusan mengeluh? Membanding-bandingkan? Kita sedang dicoba, mendapat ujian. Pantaskah jika hanya bisa berbicara hal-hal yang seharusnya tidak perlu diumbar-umbar. Astaghfirullah. Maafkan hamba-Mu Ya Rabb.

Ruangan ini memang ramai, seolah berlomba-lomba untuk menceritakan apa-apa yang telah dialami setelah berada di lapangan. Bagaimana denganmu? Pertanyaan ini sangat menjengkelkan rasanya. Aku tertekan, menghadapi hal-hal yang sebenarnya tidak pernah ada dalam pikiranku. Ini sudah hari ketiga, tapi tetap saja. 

Bukan ini saja, aku harus kembali dihadapkan oleh situasi yang cukup rumit. Menjadi pikiran, mengganggu. Aku berharap ketika itu dia ada, menepuk pundakku. Menggenggam tangan ini, berusaha menatap mataku meski aku tidak benar-benar memintanya. Setidaknya aku tidak merasa kehilangan seperti ini. Aku butuh, aku butuh dia meskipun dia harus berpura-pura peduli. Aku lihat jelas dia tertawa, ingin aku mengikutinya. Tapi, ada hal yang membuatku tertahan. "Sakitnya tuh disini!"

Aku tidak langsung pulang hari ini, menyisakan sedikit waktu yang aku miliki untuk menatap langit. Mengimajinasikan hal-hal sepele. Bagaimana awan bergerak, bagaimana awan berkejar-kejaran dengan angin, menari dan bahkan mereka sangat akur. Indahnya alam ini. Sampai ketika hujan turun dengan lebatnya. Benar-benar seperti gambaran kejadian hari ini. Aku singgah disebuah Mesjid, hujan semakin lebat. Tampak seseorang membawa motor kencang dengan sedikit hati-hati. Malangnya, kertas yang ia bawa basah terkena hujan. Aku membuka tas, mungkin plastik ini bisa berguna. "Terimakasih" katanya.

Aku belum mengganti bajuku, masih dengan pakaian bekas hujan tadi. Bukan masalah, karena pikiran tentang itu semakin mengusikku. Mataku basah, semakin berlinang. Jika saja aku bisa, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Badan gak sehat". Aku paham, aku mengerti. Tidak ada nada tinggi. Aku hanya ingin, membuatmu bangga. Aku ingin seperti mereka diluar sana yang bisa sukses dengan cara mereka sendiri. Merangkai mimpi mereka dan mewujudkannya. Hanya tahun ini, mungkin tahun depan tidak ada lagi kesempatan ini. Innallaha Ma'ana.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Sayapku rusak, aku hanya butuh waktu untuk memulihkannya seperti semula. Ibu periku tidak bersamaku saat ini, mungkin dia sedang mendidik peri-peri yang lain. Aku tak apa, ada air yang setia menemaniku.



Danau ~