Jumat, 03 April 2015

Semestinya Awan

Pernah suatu ketika awan yang lain bergabung dengan ramah, dan ketika itu pula ada awan yang lain mendung dengan sendirinya.

Aku adalah sebongkah awan yang tak meminta banyak, karena aku tau semua ini sudah jalan Tuhan. Aku hanya meminta tiap detik dalam langkah aku berarak, ada seberkas senyum yang tergambar jelas. Aku senang dengan warna yang aku miliki; putih bersih. Tak jarang pula aku juga sedikit menghitam ketika perasaan mulai terbawa angin. Entah karena aku yang tak sanggup menahan ataupun karena aku terlalu lemah untuk mempertahankan semuanya. Tapi kembali ke awal, tidak ada yang salah untuk semua ini dan tidak perlu disalahkan pula.

Sering pula aku menangis, menjatuhkan air dari bagianku. Ketika aku terlanjur sedih, ketika itu pula aku tak akan segan untuk mengirimkan air keseluruh penjuru bumi dengan izin-Nya. Tuhan, nikmat mana lagi yang harus aku dustai??

Teman bermainku adalah angin, dia sangat baik. Terkadang aku berlarian kesana kemari ditempat yang sangat aku gemari; langit. Langit akan cerah ketika aku bahagia. Dia akan menghitam kelam ketika aku merasa terancam dengan keadaanku. Tapi semua ini adalah kehidupan yang harus aku jalani dan lewati. Semua ini membuatku berarti dan ada.

Teruntuk kau yang ada disana. Nikmatilah hidupmu, ketika ada bagian dalam hidupmu yang membuatmu kecewa maka nikmati saja. Ini yang akan membuatmu lebih kuat dan hebat. Tuhan Maha Bijaksana. Dia telah memberikanmu segala hal yang terbaik. Tinggal bagaimana kamu menggapainya.


~

Senin, 16 Maret 2015

Kita ; 4 Elemen Utama Keseimbangan

"Impian itu tidak boleh berakhir, harus terus diperjuangkan hingga menjadi kenyataan".

Hey, apa pendapatmu tentang "KITA"?? Aku menyebut kita seperti empat element utama keseimbangan. Layaknya avatar yang dibentuk menjadi sebuah sosok keseimbangan alam dan dunia (the last air branded, legend of ang, Avatar). Kita telah bersama dan melengkapi semua itu.

Aku cukup takjub memiliki kalian yang benar-benar hebat menurutku. Siapa saja boleh mengganggap ini terlalu berlebihan, tapi tidak untukku. Kalian datang dihadapanku bukan tanpa sebuah pesan. Kalian datang dengan segala elemen yang kalian miliki. Berharap kita akan mempersatukannya sebagai suatu bentuk kekuatan. Kita pernah menghabiskan waktu bersama, mempelajari satu sama lain. Kalian berwarna, dan memberi warna tersendiri. Nikmat mana lagi yang harus ku dustai?

Tidak ada yang sia-sia, kawan. Sungguh tak pernah ada yang sia-sia. 

Yang namanya perjuangan itu tidak ada yang mudah dan kita akan memulai lagi sebuah cerita baru. Hidup adalah sebuah perjalanan mencari kebahagiaan, sekaligus kehilangan kebahagiaan yang lain. Kata orang bahagia itu sederhana, tapi biarkanlah kesederhanaan itu terus berlanjut hingga istimewa. Bahagia adalah milik kita sama-sama. Tanpa sadar pada akhirnya, kita saling menjadi alasan; alasan saling menguatkan, alasan saling meninggalkan, alasan saling melupakan, alasan berhenti memikirkan juga merindukan. Ada sesuatu yang akan terus bertahan disaat semuanya berlalu dan berubah; Kenangan. Semoga kita tak hanya ada dalam doaku, tetapi doamu juga.

Surat At-Taubah 9: 71
—  “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, setengahnya menjadi penolong bagi setengahnya yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan, dan melarang daripada berbuat kejahatan; dan mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat, serta taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
  
Sementara ini yang kita miliki hanyalah doa. Dia Maha Tahu, Dia Maha Mendengar, dan Dia Maha Bijaksana. Semangat buat para pencari ilmu, jangan pernah lelah, karena kita tidak tahu batas antara perjuangan dengan keberhasilan. Yang kita tahu, untuk berhasil kita harus berjuang lebih dulu. 
 

Note:
Teruntuk 4 Elemen Utama Keseimbangan~

Selasa, 24 Februari 2015

Tak Mudah

Selamat malam goresan kisah masa lalu. Baru ngerasain lebih dalem kalau move on tuh kayak gini. Gak peduli – dia ada atau enggak disekitar kita, segala chat dengan dia ataupun tentang dia, bahkan bayang-bayangnya yang biasa bersliweran. Perasaan kita masih tetep sama; biasa aja. Meskipun rasanya sangat menyenangkan menikmatimu dari kejauhan - ah lupakan. Mungkin untuk move on itu memang terlampau sulit, tapi bagaimana jika diantara kita saling memaafkan? Aku telah berhenti menginginkanmu.

Sejak aku tidak lagi menulis KAMU. Ada beberapa DIA dalam kehidupan yang mencoba masuk dan mengetuk pintu. Atau aku yang sengaja membuka pintu - menunggu. Dia yang membawa setangkai bunga pelangi, dengan segala macam bentuk. Dia yang membungkus sesuatu dengan pita mekar diatasnya. Dia yang mengajakku berteduh dari terik matahari dan guyuran hujan. Hanya saja aku masih tetap BIASA. Bukan karena aku belum move on, tapi karena terlalu susah untuk memulai kembali. 

Aku cukup beruntung dengan ketidakhadiranmu lagi, saat aku cukup mampu untuk melupakanmu. Kau lebih tahu diri dan tidak seenaknya menyelinap masuk ke dalam mimpiku dan merusak usahaku (lagi). Karena aku tahu, selalu ada cara untuk melupakanmu dan aku akan berusaha untuk itu. Aku melupakanmu dengan menyibukkan diri. Membaca tumpukan buku-buku yang bertumpuk disebuah toko. Dengan lahap aku dapat menghabiskan empat atau lebih beberapa buku. Aku melupakanmu dengan cipratan luka, luka yang basah. Setidaknya dengan membaca aku dapat mengikismu dalam ingatan. Mencintaimu aku mampu, namun aku lebih memilih berhenti.

Untuk segala hal yang pernah didasari oleh hati. 



Kenyataannya, melupakan adalah caraku menyakiti diri sendiri. Semuanya akan memudar seiring senja, kau telah mencukupkan bahagiaku. Kau mengajariku bagaimana mencintaimu, tapi di saat kau pergi. Kau lupa mengajariku cara melupakanmu. Berusaha melupakanmu sama mudahnya seperti mencoba mengingat sesuatu yang tak pernah terjadi. Semoga Tuhan segera menghapus namamu dari dalam hatiku.

Jangan datang dan pergi sesuka hatimu, kau tak tahu rasanya jadi aku. Karena untuk melupakanmu tak semudah saat aku menjatuhkan hatiku untukmu.

Rabu, 04 Februari 2015

Kalah

Tak pernah memiliki namun merasa kehilangan berkali-kali. Sebab kita terlalu merasa memiliki sesuatu hingga akhirnya merasa kehilangan.

Ada bagian relung hati yang terbuka jahitannya, terlepas begitu saja karena rasa telah menyeruak. Pada tiap sisinya masih dengan sisa goresan yang belum benar-benar pulih. Rasanya aku tidak ingin memikirkan siapa-siapa. Selain menunggumu, apakah pilihanku hanya merelakanmu? Kehilangan akan terasa setelah kau tidak memilikinya lagi. 

Dulu aku terlalu bersemangat untuk hal ini, membayangkan ini itu. Aku berhasil mengimajinasikan segala hal yang membuatku bahagia, bahkan pada hal-hal yang tidak mungkin terjadi. Pada dinding kamar ku goreskan tinta warna-warni, suaraku bebas membising. Ada hujan yang turun dengan deras namun aku tetap dengan duniaku. Namun sayangnya, tidak untuk kali ini. Aku kalah.



Minggu, 25 Januari 2015

Menulislah Nak

Ada sebagian besar yang menganggap remeh tulisan-tulisan ini. Sebagian tulisan ini memang terlihat tidak penting, hanya kumpulan sajak yang membuat orang sulit untuk mencerna tiap kata. Tidakkah kamu pernah berfikir bahwa setiap detik dalam hidupmu adalah hal yang berarti? Berarti tak selalu karena kau melakukan hal penyelamatan terhadap Negara, melainkan hanya sesederhana setiap detik dalam hidupmu tidak akan pernah kembali dan terulang lagi.

"Menulislah maka kau akan dikenang." 


Selasa, 13 Januari 2015

Sometimes

Kalau keadaan mengharuskan kita akan benar-benar bersama. Pasir, air dan senja...

Cerita ini ku tulis dengan mengabadikanmu. Ada syair yang mengiringi detak jantung, begitu sederhana sampai kita benar-benar terlupa bahwa kita telah dewasa. Tawa kita renyah, teriakan kita bising tapi angin membuat segalanya tetap baik-baik saja. Karena definisi bahagia itu sederhana; sekalipun harus tidur beralaskan pasir pantai putih asalkan bersamamu.

Banyak yang mengagumimu diluar sana, dan aku pun demikian. Tapi aku tidak ingin semua berakhir biasa saja. Setidaknya hingga aku terlanjur lelah menunggu. Meski sering kali pada bagian ini aku harus meradang, melawan rasa sakit. Ada celah untuk aku masuk kesana, hanya saja mungkin dia lebih dahulu. Aku tidak berharap banyak, sebanyak pasir yang ku genggam. Karena aku tahu deburan ombak ini semakin membuncah didada, sehangat senja yang menoleh.

Dalam perjalanan yang kita buat, seolah kita adalah sepasang merpati putih. Kau berhasil menjadi tempat ternyaman; aman. Kita kadang sering menduga-duga apa yang terjadi antara kita. Bagaimana mengkuliti rasa, sebab kita tidak pernah tahu. Aku akan tetap seperti ini, menatapmu diam-diam. Karena nyaman sering membuat orang lupa kalau kita hanya sebatas memuja.

I adore you...

Menulismu pada lembar terimakasih
Terimakasih karena telah mengajariku berlari; terlalu jauh
Meski yang ku tulis adalah kenangan, aku tidak bermaksud memintamu pulang
Berbahagialah, kau pernah ada

Sabtu, 03 Januari 2015

Biasakanlah

Andai. Aku sedang tidak menyukai siapa siapa, tidak mencintai siapa siapa. Aku sedang tidak mengharapkan siapa siapa dan aku sedang tidak ingin menunggu siapapun. Karena aku terlalu lelah untuk semua.

"Selamat pagi kupu-kupu, cerah mentari menanggalkan kesedihan yang terpatri disudut kamar, menanti sedikit sentuhan dari sang penjaga rimba untuk sedikit mencairkan suasana". Kukira kau mengingat tulisan ini. Tanpa rasa bersalah kau kirimkan setiap kata yang kau rangkai dibalik cermin.

Kau pernah bilang, ini cerita tentang kita. Hanya kau dan aku saja tanpa mereka. Beberapa diantara kisah kita sudah usang, dan kita membuat bab baru dimana kita menuliskan ulang dari awal. Tapi, sepertinya kita akan menemukan akhir yang menyedihkan, meski kita tersenyum bersama tapi tidak untuk kita. Biarkan takdir yang memilih.

Aku tidak sedih saat kau tinggalkan sendiri, aku hanya merasa bodoh— karena sempat percaya untuk memberimu kesempatan yang kesekian. Kau hanya lupa, kau pernah melakukan kesalahan ini lalu kepadaku kau meminta untuk memperbaiki— kini terulang kembali dan kali ini aku benar-benar berhenti. Awalnya aku merindukan percakapan kita, yang terkadang membahas hal-hal yang tidak penting. Kupikir kau sudah cukup dewasa untuk memahami arti kita yang sebenarnya. Bahkan aku sudah kehabisan cara memperjuangkan kita. Terima kasih sudah mengajarkan aku bagaimana cara menyerah. Aku bahagia.

Bahkan untuk memilikipun semua terasa begitu menyakiti. Ada waktunya untuk berdiam, ada waktunya untuk mengungkapkan. Ada waktunya menunggu, ada waktunya bergerak. Bukan tentang mana yang lebih baik, tapi tentang waktu yang tepat. Kau telah berjanji memperbaiki, kesempatan telah kuberi— berkali-kali. Namun bila semuanya masih terasa sama seperti dulu, lebih baik kita berhenti. Memaksakan, tidak akan pernah menghasilkan; kecuali ketidaknyamanan. Kita pernah menemukan seperti ini, dan dulu kita berhasil melewati. Jika saat ini aku berhenti, semoga kau mengerti.